Kamis, 29 Oktober 2009

Bab 20: persaingan berakhir

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20


Iton semakin berambisi untuk mendapakan iyen. Setiap harinya ia selalu berkunjung kekantin tempat iyen makan. Dan sutradaranya tentu saja tak lain adalah alun yang memang sejak dulu menginginkan mereka berdua jadian. Sebaliknya aku semakin berusaha menghindari iyen. Saat tak sengaja bertemu dengannya diselasar kelas aku langsung mencari alasan untuk menghindarinya. Namun pada saat istirahat sekolah ketika aku berada ditempat yang sering aku kunjungi yaitu belakang sekolah, iyen menyergapku dengan putus asa.
”baiklah jika kau menginginkan aku menerima iton sebagai pacarku, aku akan melakukannya. Tapi semoga saja kau tidak akan menyesal dengan keputusanku ini”. Kata iyen dengan suara berap-api. Setelah mengatakan itu iyen pergi meninggalkanku, ada kilatan kemarahan yang tersirat dari wajahnya. Semacam keputusan yang terpaksa dilakukan. Tapi aku merasakan ada sebagian hatiku menginginkan itu. Namun bagian lainnya tak mengharapkan itu terjadi.
Aku tahu iyen tidak akan pernah main-main dengan kata-katanya. Dan benar saja beberapa hari kemudian sekolah menjadi gempar. Persaingan untuk mendapatkan iyen berhenti seketika. Iyen telah menetapkan pilihan hatinya. Para pesaing lainnya langsung ciut nyalinya ketika melihat iton dan iyen bergandengan tangan setiap harinya menuju kantin sekolah. Sedangkan aku yang menyaksikan kejadian itu, merasakan ada sesuatu perasaan cemburu didalam hatiku. Aku tak bisa menghindari perasaan itu. Dan setiap harinya iton selalu memaksaku untuk makan bersama mereka dikantin sekolah.
Continue Reading

Bab 19: pembuktian

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20


Tak terasa sudah seminggu aku berada dibonepantai desa molotabu. Aku sering ikut bersama miman turun kelaut untuk menangkap ikan. Aku bahagia akan kehidupan baruku, merasa telah menjadi pribadi yang lain. Namun disore yang indah ketika aku berada dibawah pohon ketapang yang rindang menghadap kelaut, aku terkejut dengan kedatangan kedua sahabatku suanda dan iwan. Mereka berdua memandangku kejam, suara iwan berdesingan ditelingaku. Ada kilatan kekecewaan dari wajah mereka.
”mengapa kau menjadi lemah begini sahabatku, kemana semangatmu yang dulu, kemana rasa optimismu yang kau ucapkan dulu, kemana mimpi-mimpimu yang akan menjadi penulis terkenal, akan merantau kejakarta dan akan menjadi orang yang paling sukses disana, dimana semua cita-citamu itu, yang ingin menjadi pembalab satu-satunya yang akan mewakili indonesia keajang balab dunia formula satu. Kemana semua itu sahabatku, mengapa kau berhenti bercita-cita”. Iwan berteriak lantang didepanku. Suaranya bergetar penuh dengan kekecewaan. Aku tahu aku telah mengecewakan mereka. Kini aku hanya bisa menunduk, terpaku merenungi kata-katanya.
Continue Reading

Bab 18: hidup baru

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20


Berhari-hari aku tidak keluar kamar hanya terbaring hampa kehilangan seluruh semangatku. Semua warga yang masih menganggap aku sinuhun ilmu sakti mandraguna, bergantian menjengukku, dengan membawa bermacam-macam makanan. Mereka tampak segan didepanku. Dan lagi-lagi yang paling menjengkelkan adalah kedua sahabatku ini suanda dan iwan. Dengan lagaknya yang sok tahu iwan merepet terus bibirnya.
”sudah pernah kukatakan padamu kawan, jika bukan orang yang terpilih memegang mustika itu, akan mengakibatkan mudorot”. Kata iwan dengan sangat bijaksana. Lagi-lagi tentang mustika itu, mereka tetap mengira aku memiliki mustika. Dasar orang-orang sinting. Pikirannya telah dirasuki setan mustika.
”lihatlah dirimu sekarang telah menerima akibatnya, makanya serahkan saja mustika itu kepada yang berhak memakainya”. Saran iwan mengesankan kalau ialah orang yang terpilih untuk memegang mustika yang tidak pernah ada itu. aku berusaha tak mempedulikan ocehannya. Namun tetap saja mendengar ocehannya ingin sekali aku memukul kepalanya dengan gelas yang berada disampingku.
Continue Reading

Bab 17: pertengkaran

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20


Diluar kamar aku mendengar mami aco mempersilahkan iton agar masuk saja kedalam kamarku. Aku ingat seperti biasa iton selalu menjemputku pergi kesekolah. Aku menyuruh iton agar menungguku sebentar untuk mandi. Iton mengangguk tersenyum-senyum. Pagi ini wajahnya lain dari pada yang lain. Ia tersenyum berseri-seri. Aku sempat heran melihatnya. Tapi biarlah toh sebentar lagi ia pasti akan menceritakannya kepadaku.
Selesai mandi aku bergegas memakai seragam sekolah. Didalam kamar aku tak mempedulikan suanda dan iwan memperhatikan aku. Mereka pasti tetap penasaran dengan mustika yang mereka anggap ada padaku. Aku tergesa-gesa keluar dari dalam kamar. Iton masih tetap tersenyum-senyum sendiri menungguku diluar. Kami berdua keluar rumah menuju mobilnya yang diparkir didepan lorong rumahku.
Continue Reading

Bab 16: perangkap

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20


Beberapa hari ini perasaanku tak enak, suanda dan iwan akhir-akhir ini terlihat aneh. Aku menemukan sesuatu yang sedang mereka rencanakan. Pasti suatu rencana yang menjengkelkan lagi. Memang sudah menjadi tabiat mereka berdua untuk selalu berusaha mewujutkan keinginan mereka. Tidak akan menyerah sebelum tercapai. Aku tahu yang mendorong mereka untuk selalu seperti itu tak lain dan tak bukan adalah mustika.
Aku semakin tak tahan dengan ulah mereka itu. Berkali-kali gagal dalam menemukan mustika yang memang tidak pernah ada padaku, membuat mereka semakin berjibaku. kadang aku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang mereka rencanakan kali ini?. Apakah mereka akan menodongku dengan pistol agar aku menyerah, atau mereka telah mempunyai teknik khusus seperti yang sering digunakan badan keamanan mengintograsi tersangka. Ah ...bisa-bisa aku jadi gila sama-sama mereka jika terus memikirkan hal ini.
Continue Reading

Bab 15: kedok terbongkar

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20


Didalam kamar aku sibuk mempraktekan ilmu sulap. Aku hampir tak percaya melihat percobaan yang aku lakukan. Sangat menakjubkan. Semua berjalan lancar sesuai petunjuk buku sulap itu. Awalnya aku sempat kesulitan melakukannya. namun Setelah berkali-kali mencoba dengan gaya bak seorang yang telah mempunyai ilmu tinggi, akhirnya aku sudah terbiasa melakukannya tanpa ragu-ragu. Kini aku melatih ekspresi wajahku, agar saat mendemonstrasikan ilmu itu, terlihat seperti orang yang benar-benar sakti mandraguna, yang raja setanpun takut berurusan denganku.
Aku semakin yakin kalau semua yang melihatku akan terperangah dan akan mengemis-ngemis ingin menjadi muridku. Malam ini seperti biasanya mereka akan berkumpul lagi setelah shalat isha. Dan aku seharusnya sekarang sudah berada disana mempersiapkan semuanya sebelum seorangpun datang ketempat itu.
Continue Reading
 

naskah mengejar mimpi Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template

- modified by Dedi Padiku