naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Iton semakin berambisi untuk mendapakan iyen. Setiap harinya ia selalu berkunjung kekantin tempat iyen makan. Dan sutradaranya tentu saja tak lain adalah alun yang memang sejak dulu menginginkan mereka berdua jadian. Sebaliknya aku semakin berusaha menghindari iyen. Saat tak sengaja bertemu dengannya diselasar kelas aku langsung mencari alasan untuk menghindarinya. Namun pada saat istirahat sekolah ketika aku berada ditempat yang sering aku kunjungi yaitu belakang sekolah, iyen menyergapku dengan putus asa.
”baiklah jika kau menginginkan aku menerima iton sebagai pacarku, aku akan melakukannya. Tapi semoga saja kau tidak akan menyesal dengan keputusanku ini”. Kata iyen dengan suara berap-api. Setelah mengatakan itu iyen pergi meninggalkanku, ada kilatan kemarahan yang tersirat dari wajahnya. Semacam keputusan yang terpaksa dilakukan. Tapi aku merasakan ada sebagian hatiku menginginkan itu. Namun bagian lainnya tak mengharapkan itu terjadi.
Aku tahu iyen tidak akan pernah main-main dengan kata-katanya. Dan benar saja beberapa hari kemudian sekolah menjadi gempar. Persaingan untuk mendapatkan iyen berhenti seketika. Iyen telah menetapkan pilihan hatinya. Para pesaing lainnya langsung ciut nyalinya ketika melihat iton dan iyen bergandengan tangan setiap harinya menuju kantin sekolah. Sedangkan aku yang menyaksikan kejadian itu, merasakan ada sesuatu perasaan cemburu didalam hatiku. Aku tak bisa menghindari perasaan itu. Dan setiap harinya iton selalu memaksaku untuk makan bersama mereka dikantin sekolah.
Continue Reading
Iton semakin berambisi untuk mendapakan iyen. Setiap harinya ia selalu berkunjung kekantin tempat iyen makan. Dan sutradaranya tentu saja tak lain adalah alun yang memang sejak dulu menginginkan mereka berdua jadian. Sebaliknya aku semakin berusaha menghindari iyen. Saat tak sengaja bertemu dengannya diselasar kelas aku langsung mencari alasan untuk menghindarinya. Namun pada saat istirahat sekolah ketika aku berada ditempat yang sering aku kunjungi yaitu belakang sekolah, iyen menyergapku dengan putus asa.
”baiklah jika kau menginginkan aku menerima iton sebagai pacarku, aku akan melakukannya. Tapi semoga saja kau tidak akan menyesal dengan keputusanku ini”. Kata iyen dengan suara berap-api. Setelah mengatakan itu iyen pergi meninggalkanku, ada kilatan kemarahan yang tersirat dari wajahnya. Semacam keputusan yang terpaksa dilakukan. Tapi aku merasakan ada sebagian hatiku menginginkan itu. Namun bagian lainnya tak mengharapkan itu terjadi.
Aku tahu iyen tidak akan pernah main-main dengan kata-katanya. Dan benar saja beberapa hari kemudian sekolah menjadi gempar. Persaingan untuk mendapatkan iyen berhenti seketika. Iyen telah menetapkan pilihan hatinya. Para pesaing lainnya langsung ciut nyalinya ketika melihat iton dan iyen bergandengan tangan setiap harinya menuju kantin sekolah. Sedangkan aku yang menyaksikan kejadian itu, merasakan ada sesuatu perasaan cemburu didalam hatiku. Aku tak bisa menghindari perasaan itu. Dan setiap harinya iton selalu memaksaku untuk makan bersama mereka dikantin sekolah.
